Kamis, 31 Januari 2013

SIMBOL MAJELIS MAWAR QODIRIYAH




Mawar adalah tanaman semak kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman yang memanjat dan tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter, walaupun jarang bisa di temui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter.

Sebagian besar spesies mawar yang memiliki daun panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan daun majemuk yang tiap tangkai daunnya terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ketanah, bunganya terdiri dari 5 helai daun mahkota dan daun kelopak, berkembang dari satu bunga dengan banyak putik, masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal.
   
Bunga Mawar pada hakekatnya adalah sebuah sosok bunga yang banyak mengajarkan dan  memberi pelajaran dalam kehidupan manusia, yang pada hakekatnya manusia tidak akan pernah mendapatkan kesempurnaan dalam kehidupan didunia ini dan tidak akan kekal abadi selamanya. Karena sesungguhnya kesempurnaan itu semata-mata hanya milik Tuhan

Adapun segala rasa yang timbul dari dalam diri atau hati kita yang paling dalam, atau pikiran kita maka tidak ubahnya seperti bunga mawar yang indah dan menawan yang membuat setiap orang ingin memetik dan memilikinya, dan pada saatnya dia akan gugur dan mati dan akan tiba saatnya ia lenyap dari kehidupan ini. 

Meskipun tanpa menggunakan kata-kata sebenarnya dia ingin berkata kepada kita. Sesungguhnya dalam kehidupan ini tidak ada yang kekal dan abadi, bahkan apa saja yang sekarang kita lihat indah sekarang ini pada suatu saat akan menjadi sesuatu yang terbuang dan tiada berarti.

Dan bunga mawar mengajarkan kepada kita janganlah menjadi seorang manusia yang lemah, mudah terbawa arus dan  perasaan, dan janganlah pula suka mencari kesenangan, kebahagiaan atau keindahan hanya sesaat saja karena hal tersebut akan memberi kita pada akhirnya suatu kehampaan belaka dan akan menimbukan luka yang sangat mendalam.

Mawar adalah bunga yang di pandang sebagai suatu bahasa simbol dari hidup dan kehidupan yang lebih bersifat rohaniah dari pada lahiriah. Di dalam filosofis simbolisme dan mistikisme sosok yang memiliki  sifat yang total dan mendalam ini kami ungkapkan dengan lambang, bisa berupa cerita, perumpamaan, warna, rupa dan lain sebagainya. 

Sesungguhnya bunga mawar adalah lambang hidup dan kehidupan manusia, sedangkan manusia adalah makhluk yang paling ajaib dan penuh dengan misteri. Tak ada satu manusia pun di dunia ini yang mampu mengenal manusia secara tuntas, apa yang di ketahui oleh manusia itu hanyalah sedikit sekali. 

Betapapun suami dan istri mengenal dan mencintai pasangannya dan betapapun cinta kasih sayang seorang ibu bergaul dengan anaknya, namun orang lain atau anak itu tetap menjadi teka-teki dan misteri bagi ibunya. Bahkan dirinya sendiri pun sebetulnya juga merupakan suatu teka teki dan misteri bagi dirinya sendiri. Manusia selalu berkeinginan mencoba untuk melakukan refleksi dan mendapatkan jawaban tentang misteri manusia. Apa dan siapa manusia itu ...? Dan siapakah Aku ini ...?.

Berbicara mengenai mawar hampir selalu di kait-kaitkan sosok tanaman yang memiliki keunikan dan memiliki ciri khas tersendiri di banding dengan bunga lainnya, bagaimana kita melihat bunga mawar, apakah yang lebih nampak duri-durinya atau justru kelopak bunganya yang indah, bunga mawar bisa di petik, ini adalah sebuah hikmah atau pelajaran bagi yang berpikir positif akan lebih mengagumi keindahan mawar dan bagi orang yang suka berpikir negatif mereka hanya melihat duri-durinya saja.

Sesungguhnya cinta adalah sebuah anugrah dan nikmat dari Tuhan yang harus kita jaga, susah dan senang berasal darinya, mawar juga di lambangkan sebagai simbol bunga cinta, jika tiada suatu rasa yang benar-benar dan bertekad untuk mempertahankan cinta tersebut.  

Akan tetapi bila cinta tersebut hanya sebatas cinta antara sesama makhluk maka akan binasa dan segala cerita yang telah tergores akan terhapus dengan begitu mudahnya, saat kita hanya menyukai segala sesuatunya kalau hanya dari sisi luar saja atau hanya dari keindahannya yang sesaat, maka kehancuranlah yang menanti.

Belajar dari filosofi bunga mawar dia adalah sosok bunga yang hidup secara mandiri dan di dalam kesederhanaannya dan tanpa iri melihat keindahan atau kemewaan yang ada di sekelilingya, namun bunga mawar  tetap akan memberikan keindahan yang mempersona dan bermanfaat bagi orang lain. dia bisa tumbuh di tempat yang tandus sekalipun, dan bila ia di petik maka tak akan dapat lagi tumbuh tetapi mawar tersebut tidak akan langsung mati, keindahan sang mawar tetap ada saat ia belum layu.

Mawar sudah terbiasa hidup di atas tangkai yang kecil serta dahannya yang penuh oleh duri yang menantang namun mawar tetap mampu mengatasinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dan ketika sampai pada puncak kesuburannya sebagai masa kejayaannya sang mawar tetap tidaklah  sombong dan ketika layu pun ia harus turun dari kedudukannya dia tidak akan prustasi namun secara selangkah demi selangkah mawar akan menyesuaikan dirinya untuk memahami dan menerima serta menyadari bahwa hidup di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi.  

Kami selaku Pengasuh Majelis Mawar Qodiriyah menjadikan dan mengadopsi Bunga Mawar sebagai nama dan simbol karena bunga mawar memiliki arti dan makna yang luas sangat mendalam. Sesungguhnya  apa arti dan makna di balik rahasia sebenarnya …?  

Mawar adalah bunga yang indah rupanya, bermacam-macam warnanya ada merah Tua, Merah Muda, Hitam dan ada pula yang Putih, semuanya menawan hati. Begitu pula bentuknya yang bulat/bundar berkelopak-kelopak sangat menarik perhatian.  Karena itulah dalam dunia sastra Bunga Mawar menjadi simbol kecantikan dan sering kali gadis yang mempersona di ibaratkan sebagai Bunga Mawar.  Firman Allah Swt. Di dalam Kitab Suci Al’Quran menyatakan :

“ Faa’ijan saq’qotis samaa’u faka’nat wardhatan kad’dihaani ”   Artinya : Maka apabila langit telah terbelah maka ia menjadi Mawar merah seperti kilauan minyak. ( QS Ar-Rahman ayat 37 ).

Dalam dunia Sufi, Mawar pun menjadi simbol paling tidak di lingkungan Tarekat Sufi yang mula-mula berkembang di Bagdad ini mengambil Mawar sebagai simbol. namun bagi kaum Qodiriyah,  Mawar di jadikan simbol bukan karena harum baunya dan indah rupanya.   

Akan tetapi karena berkaitan dengan peristiwa yang di alami oleh Sulthon Aulia Syekh Abdul Qodir A-Jailani pendiri tarekat Qodiriyah tersebut. Dan Qodiriyah adalah dua nama yang tidak akan terpisahkan karena nama Qodiriyah di ambil dari namanya Abdul Qodir, yang artinya : pengikut Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. 

Sebenarnya yang memberi nama bukanlah beliau sendiri melainkan para pengikut dan murid-muridnya, untuk membedakan dengan penganut tarekat yang lain, karena memang selain Tarekat Qodiriyah banyak juga tarekat-tarekat yang lain yang sudah lama berkembang.  

Nama sebenarnya beliau adalah Syekh Abdul Qodir Al-Kilaniy/Al-Jailani pembangun Tarekat Qodiriyah. Istilah “ Jailani ” yang artinya “ Telah Tajalli Allah kepadaku ” sedang mencantumkan gelar “ Al-Kilaniy ” adalah menunjukkan tempat kelahiran beliau di desa Kilani yang berada di wilayah Iraq.

Tarekat juga dapat diartikan “ Organisasi ” karena di dalam tarekat tersebut ada Struktur kepemimpinan dan aturan yang mengikat sesama anggota, begitu pula di dalam lingkungan Tarekat Qodiriyah ada aturan yang harus di patuhi, dan aturan itu mengatur hubungan antara sesama saudara seperguruan dan hubungan antara murid dengan guru.  

Aturan tersebut sama sekali tidaklah di rasakan berat, karena ada hubungan emosional yang sangat kuat di antara jamaah, apa pun yang di perintahkan guru pasti dengan senang hati di laksanakan dan di kerjakan oleh para murid, di setiap Pesantren, perguruan, padepokan, paguyuban, majelis atau suatu perusahan, dll, memiliki suatu makna simbol tersendiri, begitu juga dengan ( Majelis Mawar Qodiriyah )  yang mengambil dan mengadopsi simbol nama Mawar tersebut.  

Yang bersangkut paut dengan peristiwa yang di alami oleh Sulthan Aulia Syekh Abdul Qodir A-Jailani pendiri Tarekat Qodiriyah tersebut.  Syekh Syihabuddin Umar Suhrawardi salah satu tokoh Tarekat Qodiriyah menceritakan “ Bahwa pada suatu hari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani berangkat meninggalkan kampung halamannya menuju Bagdad, Kota yang saat itu menjadi pusat kebudayaan Islam pada waktu itu. 

Perjalanan ini bukan perjalanan biasa, akan suatu tetapi perjalanan yang sangat istimewa, beliau pergi untuk meningkatkan derajat kerohanian.  Dalam perjalanan itu beliau di bimbing oleh Nabi Khoidir As, sebagai pemimpin ruhani, yang pernah mengajari Nabi Musa As, dan menjumpai Sufi terkemuka seperti Ibrahim bin Adham, Malik bin Dinar, Sufyan Ats Tsauri, Abu Yazid Al Bustami dan lain-lainnya “.

Sesampainya di tempat tujuan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di sambut oleh seorang tokoh Syekh bernama Ali Al-Wahidi Al-Qodiri, Syekh tersebut menyodorkan sebuah cawan berisi air. Hal ini bertanda atau sebuah bahasa isyarat bahwa Bagdad sudah di penuhi orang-orang suci, sehingga tidak ada tempat bagi yang lain, juga bagi Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.  

Isyarah itu di jawab oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dengan meletakkan sekutum Bunga Mawar di atas cawan berisi air tersebut, yang artinya Bagdad masih menyisahkan tempat bagi dirinya. Melihat hal demikian itu semua yang hadir serentak berkata  ‘’ Syekh adalah Mawar kami ’’.   Dan di kemudian hari para murid-murid beliau mengambil Mawar sebagai simbol mereka, selama beberapa generasi dan simbol tersebut  di pertahankan secara turun temurun hingga sekarang.

STRUKTUR MAWAR

1. Mawar terdiri dari lingkaran putih, helai daun, paduan warna dengan 7 kelopak bunga, semua itu mengandung makna tersendiri.

2 . Lingkaran putih terdiri dari luar dan dalam antara lain : A . Bagian luar : Terdiri atas Syariat dan Tarekat, adapun Syariat melambangkan perbuatan atau ucapan. sedang Tarekat melambangkan hati atau suatu amalan.  

B . Bagian dalam : Terdiri atas Hakekat dan Marifat, adapun Hakekat melambangkan nyawa atau penglihatan ruhani terhadap Tuhan, sedangkan Marifat itu rahasia atau kenyataan yang sebenarnya, Hakekat tidak akan dapat di pisahkan kecuali oleh orang yang memiliki Marifat.

3 . lima helai daun itu melambangkan lima keutamaan bagi kaum muslim yaitu : Syahadat, Sholat,   Puasa, Zakat dan ibadah haji.

4 . Enam helai daun melambangkan enam karakter keimanan yaitu : Percaya kepada Allah swt. Percaya kepada Malaikat, Percaya kepada Kitab, Percaya kepada Rasul-rasulnya, Percaya hari Kiamat, Percaya kepada Qadha dan Qhadar.

5 . Tujuh helai daun melambangkan melambangkan tujuh ayat Al-Quran, jadi seluruh helai daun berjumlah delapan belas mengandung arti bahwa Nabi Besar Muhammad SAW sebagai pembawa rahmat bagi delapan belas alam.

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman ( Laulakalaulaka ma kholaqtul as’ya’a ).  Dan artinya : “ Kalau bukan engkau, kalau bukan engkau ( Hai Muhammad ) Tidak kujadikan semua alam ” Muhammad adalah rahmat bagi alam semesta dan segala isinya. Rahmat selalu ada dimana-mana, waktu yang lalu, sekarang atau yang akan datang. Rahmat datang dari sifat Rahmaniyah dan Rahimiyah Allah swt. Sifat tidak terpisah dengan Zatnya.

6 . Selanjutnya warna yang ada pada Mawar itu mempunyai arti tersendiri seperti : warna kuning melambangkan Syariat, warna putih melambangkan Tarekat, warna hitam melambangkan Hakekat, warna merah melambangkan Marifat.

A . Adapun Syariat yang di Artikan “ Tata hukum ” Di sadari bahwa di alam semesta ini tidak ada yang terlepas dari apa yang di namakan “ Hukum ” termasuk untuk manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai hamba Allah, perlu di atur dan di tata sehingga terciptalah keteraturan yang menyangkut hubungan antar manusia dan manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhannya.

B . Adapun Tarekat yang di Artikan “ Jalan ” Untuk mengetahui adanya suatu jalan, perlu juga mengetahui “ Cara ” untuk melintas jalan agar tujuan kita tidak salah langkah /kesasar. Tujuan adalah kebenaran,  maka cara untuk melintas jalan harus dengan benar pula.

C . Adapun Hakekat yang di Artikan “ Kebenaran ” atau kenyataan asal yang sebenar-benarnyanya, kebenaran dalam hidup dan kehidupan inilah yang harus di cari dan ini pulalah yang di tuju manusia yang sebenarnya.

D . Adapun Marifat di Artikan “ Mengenal ” Siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya dia dapat mengenal Tuhannya. Diri ini penuh dengan serba ketergantungan, kekurangan, kelemahan, di banding dengan Allah yang memiliki kebesaran, kekuasaan dan kekekalan serta memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

E . Keempat bagian ini ( Syariat, Tarekat, Hakekat dan Marifat ) adalah sudah merupakan satu kesatuan yang tidak akan bisa di pisah-pisahkan masing-masing, apabila gugur atau lepas salah satunya berarti gugur lepas pula keseluruhannya.

7 . Sedangkan kelopak bunga itu terdiri dari tujuh helai yang melambangkan tujuh nama Tuhan, yang di ucapkan di dalam berzikir.  

A . Pertama : lafad, la ilaha ilalloh dengan cahaya biru.  
B . Kedua :  lafad, Allah dengan cahaya kuning.
C . Ketiga : lafad, Hu dengan cahaya merah.
D . Keempat : lafad, Hayyu dengan cahaya putih.
E . Kelima : lafad, Wahid dengan cahaya hijau.
F . Keenam : lafad, Aziz dengan cahaya hitam.
G . Ketujuh : lafad, Wadud tanpa warna cahaya. 

Adapun ke tujuh warna tersebut di atas melambangkan cahaya putih ( Allah ) dengan delapan belas gumpalan darah beku melambangkan huruf Hijaiyah dalam kata ( Hayyu ). Huruf ( Ha ) nilainya angka 8 sedang huruf ( Ya ) nilainya angka 10,  jadi jumlahnya semua 18.  

Dan di tengah-tengah bunga mawar tersebut terdapat Cincin Nabi Sulaiman As, kalimat Sulaiman terdiri dari 5 huruf Hijaiyah yaitu : Sin, Lam, Ya, Mim, dan Nun. ( Huruf Sin artinya : Terbebas dari kelemahan. Huruf Lam artinya : Cenderung akan kehalusan. Huruf Ya artinya : Kekuatan visi spiritual. Huruf Mim artinya : Keakraban dengan sahabat. Huruf Nun artinya : Doa dan salam hanya bagi milik Allah semata-mata ). 

Di kalangan ulama sufi banyak yang mengungkapkan ajaran dengan ilustrasi berupa isyarah huruf, meskipun hal itu tidak bisa di jadikan suatu rumusan yang bisa di sebutkan sebagai dalil atau nas. yang ada. Tetapi pengertian yang di tangkap dari rumusan itu memberikan kepuasan tersendiri bagi kalangan sufi dan para saliknya.  

Lebih-lebih kalangan para ahli hikmah beranggapan bahwa setiap huruf dan angka merupakan bagian yang tidak bisa di pisahkan dan di tinggalkan, huruf dan angka tersebut memiliki daya magis atau memiliki rahasia, tersendiri dan tidak akan dapat memahaminya kecuali orang-orang yang Allah pilih.

Untuk mencapai tingkatan dalam ilmu tasawuf di atas jalannya sangat sukar dan sulit, tidak semudah seperti seseorang naik kelas atau naik tingkatan di Universitas. Oleh karena itu pengetahuan ini di sebut “ Jananasandhi “ ( Rahasia Pengetahuan ) atau yang belum terbuka mata hatinya. mengingat pengalaman spiritual itu bersifat individuil atau pribadi, maka tingkatan-tingkatan tersebut bukanlah suatu keharusan. 

Dan proses tatarannya tidaklah sama bagi tiap-tiap orang. Sedang persyaratan yang menentukan untuk dapat menemukannya adalah atas Ridho dan kemurahan Tuhan sendiri, manusia tidak mungkin dapat memaksa Tuhan untuk menampakkan dan menyatakan dirinya. Tuhan hanya dapat di pahami dengan pengetahuan Tuhan sendiri dan sinar cahayanya hanya dapat sampai ke manusia kalau Tuhan menghendakinya. 

Di antara sekian banyak manusia telah kehilangan dirinya sendiri dalam samudera keresahan, kekwatiran maupun ketakutan, banyak yang terjadi si kaya merasa resah bagaimana melestarikan kekayaannya dan si miskin banyak mengalami keresahan bagaimana usaha dan upaya untuk memenuhi kebutuhan primer dalam keadaan yang sama sekali tidak punya apa-apa.

Kemudian tampilah dengan gayanya yang khas bagi para pemimpin dengan dalih menyuarakan hati nurani dan membantu aspirasi masyarakat namun pada hakikatnya mereka sendiri berblok-blok atau terkotak-kotak dalam posisi yang berbeda-beda, sebagian dari para pemimpin menggunakan alat bagi si kaya dan sekaligus mampu memperalat si miskin untuk kepentingan mereka sendiri dan sungguh sedikit sekali yang betul-betul menyuarakan hati nurani dan membela aspirasi masyarakat.

Sebenarnya keadaan ini yang telah terjadi pada zaman sekitar abad ketiga hijriyah, hal demikian juga terjadi pada kurun waktu berikutnya baik keadaan yang sekarang dan masa datang. Dalam situasi dan kondisi manusia kehilangan dirinya sendiri dan kehilangan arah, ajaran Ilmu Tasawuf Ketuhanan dapat memberi ketentraman dan ketenangan batin manusia. 

Dengan ajaran ini maka manusia berangsur-angsur kembali kepangkalnya yang memiliki tiga fungsi  dalam kehidupan : 1 . Fungsi manusia sebagai makhluk pribadi. 2 . Fungsi manusia sebagai makhluk sosial.  3 . Fungsi manusia sebagai sebagai hamba Allah. 

Dengan mempelajari ilmu Tasawuf ketuhanan maka akan mengantarkan manusia yang berpribadi ( Khuluq ), bagaimana sikap dan prilaku dalam lingkungan sesama manusia da alam ( Khalaq ) dan apa pula yang di persembahkan  ( Khaliq ) dan ketiga fungsi manusia tersebut telah di jabarkan dalam ajaran tasawuf ketuhanan. 

Inilah suatu ajaran yang membangkitkan semangat hidup dan dalam wawasan yang lebih luas. Dengan mempelajari ajaran kesempurnaan hidup seperti : Syariat, Tarekat, Hakekat dan Marifat, maka akan membawa manusia ke pangkal asalnya untuk menemukan kebahagiaan hidup yang hakiki.